Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 13 Mei 2009

IMUNISASI

Definisi Imunisasi
Kata imun berasal dari bahasa Latin ‘immunitas’ yang berarti pembebasan (kekebalan) yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap dakwaan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Imunisasi adalah pemberian vaksin kepada seseorang untuk melindunginya dari beberapa penyakit tertentu. Imunisasi merupakan upaya untuk mencegah penyakit lewat peningkatan kekebalan tubuh seseorang.
Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk kedalam tubuh.

Kuman disebut antigen. Pada saat pertama kali antigen masuk ke dalam tubuh, maka sebagai reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi. Dengan dasar reaksi antigen-antibodi ini tubuh akan memberikan reaksi perlawanan terhadap benda-benda asing dari luar (kuman, virus, racun, bahan kimia) yang mungkin akan merusak tubuh. Akibat melakukan perlawanan terhadap antigen, maka imunitas berkurang karena dirombak oleh tubuh. Agar tubuh tetap kebal diperlukan perangsangan kembali oleh antigen, artinya anak tersebut harus mendapatkan suntikan/imunisasi ulangan

Sebagai ringkasan mengenai pengertian dasar imunologi ialah :
1.Bila ada antigen (kuman, bacteria, virus, parasit, racun kuman) memasuki tubuh, maka tubuh akan berusaha untuk menolaknya. Tubuh membuat zat anti berupa antibodi atau antitoksin.
2.Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen, berlangsung lambat dan lemah, sehingga tidak cukup banyak antibodi terbentuk.
3.Pada reaksi atau respons yang kedua, ketiga, dan seterusnya tubuh sudah lebih mengenal jenis antigen tersebut. Tubuh sudah lebih pandai membuat zat anti, sehingga dalam waktu yang lebih singkat akan dibentuk zat anti cukup banyak.
4.Setelah beberapa waktu, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang. Untuk mempertahankan agar tubuh tetap kebal, perlu diberikan antigen/suntikan/imunisasi ulang. Ini merupakan rangsangan bagi tubuh untuk membuat zat anti kembali.


Imunisasi ada dua macam,
yaitu imunisasi aktif dan Imunisasi pasif.

Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya adalah imunisasi polio atau campak.

Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan.

Perbedaan yang penting antara jenis imunisasi aktif dan imunisasi pasif ialah :
(1)Untuk memperoleh kekebalan yang cukup, jumlah zat anti dalam tubuh harus meningkat; pada imunisasi aktif diperlukan waktu yang agak lebih lama untuk membuat zat anti itu dibandingkan dengan imunisasi pasif.
(2)Kekebalan yang terdapat pada imunisasi aktif bertahan lama (bertahun-tahun), sedangkan pada imunisasi pasif hanya berlangsung untuk beberapa bulan.

Imunisasi yang Dianjurkan
1. Vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella)
Pemberian imunisasi bertujuan untuk mendapatkan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (measles), gondong (mumps), dan campak (rubella) dalam waktu yang bersamaan.

Vaksin MMR mengandung ketiga jenis campak, gondong, dan rubella yang masih hidup tetapi telah dilemahkan. Ketiga jenis virus ini dibekukeringkan, kemudian dikemas dalam bentuk kemasan tunggal sebagai vaksin MMR. Vaksin ini masih diimpor dan harganya masih cukup mahal, tetapi lenih praktis. Biaya vaksinasi masih lebih murah bila dibandingkan dengan pemberian ketiga jenis vaksin satu demi satu secara terpisah.

Penjelasan Penyakit

Istilah asing untuk penyakit campak ialah morbili (Latin), measles (Inggris). Penyakit ini sangat mudah menular. Kuman penyebabnya ialah sejenis virus yang termasuk ke dalam golongan paramiksovirus. Gejala yang khas yaitu timbulnya bercak-bercak merah di kulit (eksantem), 3-5 hari setelah anak menderita demam, batuk, atau pilek. Bercak merah ini semula timbul pada pipi di bawah telinga. Kemudian menjalar ke muka, tubuh, dan anggota gerak. Pada stadium berikutnya bercak merah tersebut akan berwarna coklat kehitaman dan akan menghilang dalam waktu 7-10 hari kemudian.

Tahap penyakit ketika timbul gejala demam disebut stadium kataral. Tahap penyakit ketika kemudian timbul bercak merah di kulit disebut stadium eksantem. Pada stadium kataral penyakit campak sangat mudah menular kepada anak lain. Daya tular ini menjadi berkurang pada stadium eksantem.

Pada waktu stadium kataral dan stadium eksantem anak nampak sakit berat, lesu. Komplikasi penyakit campak yang berbahaya ialah radang otak (ensefalitis atau ensefalopati), radang paru, radang saluran kemih, dan menurunnya keadaan gizi anak. Terutama pada anak yang kurang gizi, sering terdapat komplikasi radang paru yang mungkin dapat mengakibatkan kematian.

Cara Imunisasi

Bayi baru lahir biasanya telah mendapat kekebalan pasif terhadap penyakit campak dari ibunya ketika ia dalam kandungan. Makin lanjut umur bayi, makin berkurang kekebalan pasif tersebut. Waktu berumur 6 bulan biasanya sebagian dari bayi itu tidak mempunyai kekebalan pasif lagi. Dengan adanya kekebalan pasif ini sangatlah jarang seorang bayi menderita campak pada umur kurang dari 6 bulan.

Menurut WHO (1973) imunisasi campak cukup dilakukan dengan 1 kali suntikan setelah bayi berumur 9 bulan. Lebih baik lagi setelah ia berumur lebih dari 1 tahun. Karena kekebalan yang diperoleh berlangsung seumur hidup, maka tidak diperlukan revaksinasi (imunisasi ulang) lagi. Di Indonesia keadaannya berlainan. Kejadian campak masih tinggi dan sering dijumpai bayi menderita penyakit campak ketika ia berumur antara 6-9 bulan, jadi pada saat sebelum ketentuan batas umur 9 bulan untuk mendapat vaksinasi campak seperti yang dianjurkan WHO

Penyakit Gondong :

Penyakit gondong merupakan penyakit infeksi virus pada kelenjar air liur. Penyakit ini sebenarnya tidak berbahaya, tetapi sewaktu-waktu dapat memberikan komplikasi yang cukup serius. Komplikasi yang paling sering ialah radang otak dan radang buah pelir (pada lelaki) atau kandung telur (pada perempuan) yang akan mengakibatkan kemandulan. Karena sering dan beratnya komplikasi tersebut, maka pertimbangan perlunya imunisasi terhadap penyakit gondong di kemudian hari.Penyakit ini biasanya didahului dengan timbulnya demam selama 3-5 hari. Kemudian terdapat pembekakan di daerah pipi yang berdekatan dengan telinga bagian bawah. Pembengkakan ini biasanya tidak nyeri tekan. Selain itu dapat timbul pula rasa kurang enak badan yang tidak menentu, nyeri kepala dan rasa sakit bila menealn atau bila mengeluarkan air liur. Penyakit ini akan mereda dan sembuh dalam waktu 7-8 hari.

Penyakit campak Jerman :
Penyakit rubella telah ditemukan di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Penyebarannya ke Indonesia dari Negara lain disebabkan karena kemudahan transportasi internasional. Penyakit ini disebabkan oleh virus rubella dan ditularkan dengan perantara percikan butir-butir halus udara melalui hidung atau mulut. Gejala penyakit yang khas ialah timbulnya bercak merah di kulit (hampir serupa dengan campak), panas, dan adanya pembesaran kelenjar getah bening di leher dan bagian belakang kepala.

Cara imunisasi
Di Indonesia, seorang bayi yang dimulai menginjak 6 bulan telah mempunyai resiko untuk terinfeksi penyakit campak, seperti telah dikemukan terdahulu. Bila tidak ingin mempunyai risiko, sebaiknya bayi anda diberi dahulu imunisasi campak setelah berumur 6 bulan. Kemudian dilakukan revaksinasi campak bersama MMR pada umur 15 bulan. Cara imunisasi demikian bukan hanya dilaksanakan pada bayi perempuan yang memang memerlukan vaksinasi rubella, tetapi dapat dianjurkan pula bagi bayi lelaki walaupun sebenarnya ia tidak memerlukan vaksinasi rubella. Ingin digarisbawahi, bahwa cara pemberian ini terutama berdasar atas kenyataan untuk tidak mengambil risiko terinfeksi campak ketika anak berumur lebih dari 6 bulan.

Kekebalan
Daya proteksi vaksin MMR sangat baik, yaitu dapat mencapai 95-99 %. Meskipun sudah mempunyai kekebalan akibat imunisasi, hendaknya ibu hamil menghindarkan diri dari kontak dengan penderita rubela.

2. Vaksin Radang Selaput Otak Haemophilus influence tipe B (Hib)

Di Indonesia pada saat ini telah beredar vaksin terhadap penyakit yang disebabkan oleh kuman Haemophilus influence tipe B. Pemberian vaksin ini belum diharuskan akan tetapi dalam waktu tidak lama lagi akan menjadi salah satu prioritas Program Pengembangan Imunisasi DEPKES.

ActHIB
Imunisasi dasar pada bayi usia 2-6 bulan diberikan 3 kali suntikan 0,5 ml dengan jarak 1-2 bulan, sedangkan pada bayi usia 6-12 bulan diberikan 2 kali dengan jarak 1-2 bulan. Imunisasi ulangan diberikan 12 bulan setelah imunisasi dasar terakhir. Bila imunisasi pertama diberikan pada usia 1-5 tahun maka cukup diberikan satu kali tanpa imunisasi ulangan. .Haemophilus influence actHIB dapat diberikan bersamaan dalam satu semprit dengan DPT atau DPT-Polio buatan pabrik yang sama, dan MMR pada sisi tubuh yang berlawanan.

Penjelasan Penyakit
Haemophilus influence merupakan kuman pathogen khusus untuk manusia yang terdiri dari dua kelompok utama, yaitu kuman yang berkapsul dan tidak berkapsul. Kelompok kuman Haemophilus influence yang biasanya menimbulkan penyakit yang lebih serius karena sering menginvasi berbagai organ tubuh, sedang yang tidak berkapsul biasanya menimbulkan penyakit di daerah selaput lender saluran napas. Haemophilus influence
actHIB dapat diberikan bersamaan dalam satu semprit dengan DPT Penyakit invasive Hib yang paling serius adalah radang selaput otak atau meningitis, selain dapat pula menimbulkan sepsis, pneumonia, epiglotitis, arthritis, dan selulitis. Diduga setiap tahun terdapat 3 juta kasus HIb invasive dengan 400.000 kematian pada anak berusia kurang dari 5 tahun.

Kekebalan
Daya proteksi yang diperoleh setelah imunisasi dasar cukup tinggi, yaitu kurang lebih 95 % setelah imunisasi dasar lengkap. pedvaxHIB mempunyai kemampuan untuk dapat menimbulkan kekebalan setelah suntikan pertama pada bayi kecil (usia 2 bulan), tetapi kekebalan yang diperoleh setelah imunisasi lengkap oleh ActHIB bertahan lebih lama.


3. Vaksin Hepatitis A
Imunisasi bertujuan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis A. Di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini telah beredar vaksin hepatitis A, yaitu Havrix yang mengandung virus hepatitis A yang telah dilemahkan.


Penjelasan penyakit

Hepatitis A merupakan penyakit jaringan hati yang ringan dan dapat sembuh sendiri, khususnya pada anak. Walaupun gejalanya lengi nyata dan lebih berat dari hepatitis B, penyakit hepatitis A jarang menyebabkan komplikasi atau kematian. Hepatitis A ditandai dengan gejala demama, mual, lesu, kekuningan pada mata dan kulit, diertai warna kencing yang berwarna coklat kemerahan. Biasanya penyakit ini akan sembuh dalam waktu yang lebih pendek.

Kekebalan

Dengan 3 dosis tersebut di atas dapat memberikan perlindungan selama 10 tahun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar